banner 1

NILAI TUKAR Rupiah Cenderung Kian Melemah

NILAI TUKAR
Rupiah Cenderung Kian Melemah

Selasa, 13 Agustus 2013

JAKARTA (Suara Karya): Pasca-Lebaran dan cuti bersama, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat tipis. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah terapresiasi menjadi Rp 10.287 per dolar AS bila dibanding pada Jumat (2/8) dua pekan lalu, yakni Rp 10.288.

Pergerakan nilai tukar rupiah ini bergerak minim fluktuasi seiring dengan aktivitas pasar moneter di dalam negeri yang belum normal pascalibur panjang Lebaran.

“Nilai tukar rupiah di pasar uang domestik minim fluktuasi yang cenderung melemah terhadap dolar AS pascalibur Lebaran. Sebagian pelaku pasar juga belum terlalu aktif,” ujar pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara, Ruly Nova, di Jakarta, Senin.

Pengamat valuta asing (valas) Farial Anwar pun mengatakan hal yang sama. Dia mengungkapkan, transaksi valas masih minim. “Aktivitas belum seramai hari-hari biasa, selain masih ada tekanan terhadap indeks (Indeks Harga Saham Gabungan/IHSG),” kata Farial.

Dia berharap, Bank Indonesia (BI) bisa mengontrol nilai tukar rupiah agar tidak terlalu jatuh. Pasalnya, bila rupiah dibiarkan melemah seiring dengan mekanisme pasar, maka diperkirakan bisa timbul risiko kepanikan.

“Saya berharap BI dapat menjaga rupiah. Jangan sampai ke level Rp 10.300 per dolar AS karena berpotensi terjadi kepanikan. Akibatnya, orang-orang lebih memilih memegang dolar AS ketimbang rupiah,” ucap Farial.

Ruly Nova menjelaskan, melemahnya nilai tukar rupiah seiring dengan investor asing yang keluar dari pasar surat utang negara (SUN) menyusul imbal hasil (yield) yang di bawah besaran inflasi.

“Pelaku pasar mengharapkan yield SUN di atas besaran inflasi yang sekitar 8 persen, saat ini yield SUN sekitar 7 persen,” kata dia.

Menurut Ruly, jika imbal hasil SUN tinggi, maka dapat menjadi menarik bagi investor sehingga pelaku pasar kembali masuk ke pasar surat utang domestik. “Pelemahan rupiah saat ini bukan karena fundamental ekonomi Indonesia,” katanya.

Menurut Farial, rupiah sangat tergantung dengan banyaknya sentimen positif. Beberapa minimnya sentimen positif adalah masih defisitnya neraca perdagangan akibat ekspor Indonesia yang lebih besar daripada impor.

Selain itu, dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi beberapa waktu lalu telah meningkatkan laju inflasi yang pada gilirannya turut menekan pergerakan positif rupiah.

“Ketika BBM bersubsidi disesuaikan pada 2005, rupiah langsung di atas Rp 10.000-an. Begitu juga dengan kenaikan harga BBM bersubsidi pada 2008 telah meningkatkan laju inflasi, akibatnya rupiah mengalami tekanan hingga mencapai level Rp 12.000,” ujar Farial.

Selanjutnya adalah masih banyak orang kaya yang lebih memilih dolar AS daripada rupiah.

Dia menambahkan, potensi pelemahan nilai tukar rupiah terjadi masih terbuka. Ini lantaran telah terjadi penurunan terhadap IHSG dengan aksi pelepasan saham oleh investor asing.

Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas Abiprayadi Riyanto mengatakan, rupiah terhadap dolar AS sudah melemah hingga 4,4 persen year to date (YTD) menjadi Rp 10.065 per dolar AS per tanggal 22 Juli lalu.

Dia menjelaskan, pelemahan rupiah dipicu dari sisi eksternal dan dari sisi domestik. Dari sisi eksternal, menurut Abiprayadi, hampir semua mata uang di kawasan melemah terhadap dolar AS (rata-rata pelemahan mata uang 3,4 persen di ASEAN) yang dipicu oleh ketakutan Fed akan menurunkan stimulus dan perlambatan ekonomi China, sementara dari sisi domestik terdapat permasalahan pada defisit neraca perdagangan yang ditambah dengan ketidakseimbangan pada anggaran pemerintah yang bersumber dari subsidi BBM.

“Dengan memperhatikan sumber pelemahan rupiah di atas, kami memperkirakan tekanan rupiah masih akan terjadi dalam waktu jangka pendek,” katanya.

Dia menambahkan, tingginya permintaan dolar AS dari dalam negeri untuk membiayai kebutuhan impor dan pembayaran bunga utang diikuti juga oleh menurunnya suplai dolar AS dari sisi eksternal.

Kendati begitu, Abiprayadi tetap optimistis rupiah akan mampu berada dalam zona hijau.

“Namun, dalam jangka menengah-panjang, kami melihat rupiah akan kembali stabil. Kebijakan yang diambil pemerintah dan BI sudah berada pada jalur yang tepat,” ujarnya.

Sebelumnya, pemerintah sudah menaikkan harga BBM sebesar rata-rata 33 persen yang diperkirakan akan mengurangi konsumsi bahan bakar bermotor (BBM). Hal ini pada akhirnya akan mengurangi defisit neraca perdagangan Indonesia yang cenderung positif terhadap rupiah.

Sementara itu, analis Riset Monex Investindo Futures, Zulfirman Basir, menambahkan bahwa nilai tukar rupiah masih dibayangi oleh kekhawatiran pengurangan stimulus moneter The Fed, kembalinya kecemasan atas Yunani, dan tingginya inflasi Indonesia. (Agus)

Sumber:http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=332324

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply